Lampung | NUSANTARAEXPOST.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia kini menuai sorotan. Sebuah foto paket makanan yang beredar di masyarakat Lampung memperlihatkan menu yang dinilai jauh dari standar makanan bergizi dan layak konsumsi.
Dalam foto tersebut, satu kotak makanan hanya berisi beberapa potongan ayam berbalut tepung, sepotong pisang, beberapa potong kentang goreng, serta satu camilan kemasan. Tidak terlihat adanya menu utama dengan komposisi gizi seimbang seperti sayur, lauk berprotein, maupun makanan yang memenuhi standar gizi harian.
Program MBG sendiri diluncurkan pemerintah sejak Januari 2025 sebagai program prioritas nasional untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan guna mengurangi masalah malnutrisi dan stunting di Indonesia.
Namun, kondisi menu seperti yang terlihat dalam paket makanan tersebut menimbulkan pertanyaan serius: apakah tujuan program benar-benar tercapai jika kualitas makanan yang disajikan jauh dari konsep “bergizi”.
Sejumlah pemerhati pendidikan dan kesehatan di Lampung menilai, menu yang hanya terdiri dari gorengan dan camilan instan berpotensi tidak memenuhi kebutuhan gizi siswa. Bahkan, jika kualitas makanan tidak terkontrol, program yang seharusnya menjadi solusi justru dapat memicu persoalan baru, mulai dari kualitas pangan hingga kesehatan anak.
Sorotan terhadap program MBG sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai daerah di Indonesia, program ini juga pernah menuai kontroversi akibat kualitas makanan hingga kasus keracunan makanan massal pada siswa yang mengonsumsi paket makan gratis tersebut.
Ironisnya, program dengan anggaran besar yang digadang-gadang menjadi investasi masa depan generasi bangsa ini justru dipertanyakan implementasinya di lapangan. Jika menu yang disajikan hanya sebatas gorengan dan makanan ringan, maka esensi dari “makan bergizi” berpotensi berubah menjadi sekadar pembagian makanan murah.
Masyarakat Lampung kini berharap adanya evaluasi serius terhadap pelaksanaan program tersebut, mulai dari pengawasan dapur penyedia, kualitas bahan pangan, hingga standar gizi yang seharusnya dipenuhi. Tanpa pengawasan ketat, program yang dirancang untuk menyehatkan generasi bangsa justru berisiko kehilangan makna.






