
Oleh : Danil Akbar
Nusantaraexpost.com,- Indonesia hari ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan, tetapi pemulihan yang nyata dan berkeadilan. Recovery ekonomi bukan sekadar angka di laporan, tetapi harus dirasakan langsung oleh rakyat, terutama mereka yang berada di lapisan paling bawah. Karena sejatinya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan pada angka dan data statistik, tetapi pada sejauh mana rakyat terbebas dari kesulitan hidup.
Pemulihan ekonomi tidak akan pernah tercapai jika fondasinya masih rapuh. Selama data tidak akurat, bantuan tidak tepat sasaran, dan kebijakan masih dipengaruhi kepentingan sempit, maka yang terjadi hanyalah pertumbuhan semu. Ekonomi terlihat bergerak, tetapi rakyat tetap tertinggal. Di sinilah pentingnya membenahi sistem dari hulu, bukan hanya memperbaiki di hilir. Langkah-langkah yang penting yang perlu dilakukan dalam rangka recovery ekonomi nasional :
Pertama, memastikan distribusi keadilan ekonomi. Bantuan sosial harus tepat sasaran, subsidi harus menyentuh yang membutuhkan, dan akses terhadap peluang ekonomi harus dibuka secara merata. Negara tidak boleh hanya hadir untuk yang kuat, tetapi harus berdiri untuk yang lemah.
Kedua, penguatan sektor riil. Usaha kecil, petani, nelayan, dan pelaku ekonomi rakyat harus menjadi prioritas utama. Mereka adalah tulang punggung ekonomi yang selama ini sering diabaikan. Tanpa mereka, pemulihan hanya akan dinikmati oleh segelintir pihak.
Ketiga, perbaikan tata kelola dan pemberantasan kejahatan keuangan dan kebocoran keuangan di sejumlah titik. Sebab tidak ada recovery ekonomi tanpa kejujuran dan tanggung jawab. Kebocoran anggaran, manipulasi data, dan praktik korupsi harus dihentikan. Setiap rupiah yang bocor adalah hak rakyat yang hilang.
Keempat, membangun kepercayaan publik. Dimana sumber ekonomi dan pendapatan negara tidak akan bergerak jika rakyat tidak percaya. Kepercayaan lahir dari kepastian hukum, dari kebijakan yang konsisten, dan dari pemimpin yang bersih. Tanpa itu, semua sumber pendapatan dan program hanya akan menjadi beban tanpa hasil.
Kelima, perubahan paradigma pembangunan. Dari yang berorientasi pada pertumbuhan semata, menjadi pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Ekonomi tidak sekedar tumbuh, tetapi juga harus merata. Tidak boleh ada yang tertinggal di belakang.
Untuk itu, semua program dan perencanaan sehebat apapun, tidak akan berjalan jika yang menjalankan masih terbebani oleh masalah integritas. Recovery ekonomi membutuhkan pemimpin yang clear and clean, yang tidak tersandra oleh kepentingan pribadi. Karena bagaimana mungkin seseorang menyelesaikan masalah besar, jika dirinya sendiri masih berada dalam masalah.
Berdasarkan kondisi wilayah dan populasi, sesungguhnya Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berbenah diri, kejujuran untuk mengakui masalah, dan ketegasan untuk menjalankan perubahan. Recovery ekonomi bukan mimpi, tetapi ia hanya bisa diwujudkan jika kita berani memperbaiki akar persoalan, bukan sekadar menutupi masalah yang muncul di permukaan, melalui mekanisme tambal sulam.

