Jakarta, Nusantaraexpost.com – Indikasi yang kuat mengenai pergeseran tren konsumsi hiburan dari tayangan sinetron di televisi ke platform media sosial dan digital.

Beberapa poin utama yang mendukung alasan Genz dan Milenial beralih dari sinetron ke media digital :

  1. Kemudahan Akses dan Fleksibilitas: Media sosial, platform streaming (seperti YouTube, Netflix, Disney Plus, dll.), dan konten digital menawarkan tontonan yang on-demand (sesuai permintaan). Penonton, terutama generasi muda (milenial dan Gen Z), dapat memilih apa yang ingin ditonton, kapan saja, dan di mana saja melalui perangkat seluler, berbeda dengan sinetron yang terikat jadwal siaran televisi.
  2. Perangkat Seluler Mendominasi: Sebagian besar responden, terutama milenial, terhubung ke internet melalui smartphone dan menghabiskan waktu yang signifikan di sana, termasuk untuk menonton video online dan konten hiburan di media sosial.
  3. Konvergensi Media: Tayangan sinetron sendiri sering memanfaatkan media sosial dan platform digital. Banyak sinetron yang juga diunggah di YouTube, memungkinkan penonton yang ketinggalan episode untuk menontonnya kembali. Selain itu, munculnya akun-akun di media sosial yang membahas, membuat fanbase, atau menimbulkan pro-kontra terhadap sebuah sinetron turut mengangkat popularitasnya.
  4. Konten yang Lebih Beragam dan Personalisasi: Media sosial dan platform streaming menyajikan konten yang jauh lebih beragam, termasuk konten lokal dan global. Algoritma juga membuat rekomendasi konten menjadi lebih personal sesuai minat pengguna.
  5. Perubahan Perilaku Sosial: Meskipun menonton TV bersama keluarga mungkin berkurang, interaksi sosial tetap terjadi secara online melalui diskusi di media sosial mengenai konten yang sedang populer.

Namun demikian, ada juga riset yang menunjukkan bahwa televisi masih menjadi media yang banyak dikonsumsi oleh sebagian kalangan, termasuk milenial, dan sinetron masih memiliki penonton setianya.

Namun, tren adaptasi ke digital dan media sosial adalah sesuatu yang terus berkembang dan mengubah pola konsumsi hiburan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Sosial media memang kebutuhan penting bagi remaja maupun dewasa muda, yang dicap sebagai Gen Z. Hampir semua kegiatan mereka lakukan melalui sosial media yang beragam.

Mulai dari Instagram, Facebook, dan Youtube, dimana sosial media tersebut mereka gunakan untuk menonton maupun melihat informasi yang ada.

Tidak menutup kemungkinan juga, sejumlah sosial media tersebut mereka manfaatkan untuk menyukai bahkan melihat beragam konten, yang dihasilkan dari berbagai artis sampai influencer.

 

Dengan kata lain, sosial media menjadi sebuah tren yang masih digunakan oleh Gen Z hingga sekarang, dan menjadi hiburan yang menarik bagi mereka.

Eksisnya konten yang ada di sosial media, membuat popularitasnya tinggi daripada acara-acara yang terdapat di televisi, khususnya bagi Gen Z maupun Milenial.

Bahkan, banyaknya aplikasi media sosial memudahkan para konten kreator untuk kontennya bisa dilihat orang banyak.

Keterlibatan yang didorong oleh kreator itulah yang menjadi daya tariknya, dan pada akhirnya, apa yang kami temukan dan bahas sedikit dalam laporan tersebut, adalah gagasan bahwa mereka merasakan hubungan pribadi yang lebih kuat — 52 persen Gen Z, 45 persen milenial dalam survei tersebut — mengatakan bahwa mereka merasakan hubungan yang lebih kuat dengan kreator media sosial.

Tidak hanya itu, seorang kreator turut dibantu dengan berkembangnya Artificial Intellgience, yang bermanfaat dalam membantu dalam membuat konten. Hadirnya teknologi baru tersebut bisa membantu di beberapa pekerjaan seorang kreator maupun seluruhnya.

 

 

Seiring AI menjadi semakin lazim di semua fase kerja dan bermain kita, fakta bahwa platform sosial memanfaatkannya dengan cara yang memungkinkan mereka untuk mempersonalisasi pengalaman secara berbeda, dan akan menjadi tantangan bagi media tradisional dan streaming untuk menirunya.